Tiga tahun kemudian
“Ini adalah peta Indonesia!” suara dosen mengejutkan aku dari lamunan.
Sepertinya aku baru tersadar dari mimpi buruk, atau baru saja keluar dari pintu waktu, kembali dari masa lalu.
“Bunga, ada apa?” tanya dosen itu.
Mungkin dia memerhatikanku sejak tadi, hingga melihat ekpresi kagetku. Aku berusaha menguasai diri.
Mungkin dia memerhatikanku sejak tadi, hingga melihat ekpresi kagetku. Aku berusaha menguasai diri.
“Tidak ada apa-apa Pak. Mmm… Heran saja mengapa harus ada Peta dalam bab puisi?” tanyaku.
Semua mata mahasiswa memandangku—sepertinya pandangan mereka juga sama seperti pertanyaanku. Untuk apa ada peta, jika akan membedah sebuah puisi? Dosen muda itu hanya tersenyum, beberapa buku menumpuk di atas meja, termasuk buku puisi Kitab Hujan karya Nana Sastrawan, seorang penulis yang aku kagumi dari karya-karyanya.
“Saya ingin bertanya dulu kepada kalian, berapa banyak buku puisi yang kamu baca sampai saat ini?” dosen itu memerhatikan mahasiswanya.
“Ada sekitar sepuluh buku Pak!” sahut salah satu mahasiswa.
“Bunga?” tanyanya.
“Entahlah, saya lupa. Tapi, hari ini saya baru menyelesaikan dua buku puisi untuk dibaca,” jawabku. Membaca memang kegiatanku untuk menemani hari-hari di kampus Universitas Indonesia.
“Baiklah, coba tunjuk di peta ini tentang sebuah buku yang menceritakan keindahan Negara kita!” perintah dosen muda itu.
Semua mahasiswa diam, tidak ada reaksi apa-apa, termasuk aku yang tidak mengerti arah pembicaraan pelajaran ini.
“Hanya sebagian bukan? Semua buku selalu mengkritisi pemerintah, termasuk puisi, mereka tidak mengungkap keindahan dan budaya lokal negara kita yang kaya.”
Semua hening.
“Perhatikan! Ini adalah pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Irian Jaya, Sulawesi, Bali, dan banyak pulau-pulau lainnya yang sungguh eksotis, memiliki banyak inspirasi untuk ditulis. Menjadi puisi atau cerita, semua bisa dilakukan.”
Mata-mata mahasiswa mulai fokus.
“Sebuah Negara hidup karena sastra dan budaya. Bapak ingin kalian tidak berpikir kerdil sebagai lulusan sastra Indonesia,” dosen itu menarik napas lega, seolah apa yang mengganjal dalam hatinya telah keluar.
“Dimana letak materi puisinya Pak?” seorang mahasiswa bertanya.
Dosen itu tersenyum, “Semua yang sedang terjadi saat ini adalah puisi. Sebuah puisi tercipta dari pemahaman, pengalaman, dan analisa yang dibentuk oleh kegelisahan si penulisnya,” katanya.
“Saya belum mengerti, hubungannya dengan peta?”
“Pelajari Negara ini, maka kamu akan menciptakan puisi. Sederhana bukan?”
“Maksud Bapak?”
“Di dalam Negara ada pemerintahan, rakyat, wilayah dan juga rasa, pemikiran, ide, semua menjadi satu. Mata kita bisa menyaksikan sebuah luka, melihat kegembiraan, mendengar sebuah cerita, itu semua adalah mutiara yang bisa diolah menjadi sebuah puisi, atau cerita.”
Jam berdetik di tanganku. Hari sudah mulai siang, dosen ini memang membuat segala lamunanku hilang. Dia bisa membiusku dengan segala ucapannya, dia salah satu dosen yang selalu kutunggu untuk memberikan materi. Aku semakin tertarik untuk terus mendalami sastra dan budaya Indonesia.
“Ada pertanyaan lagi?” tanya dosen itu ketika melihat semua mahasiswa diam.
Beberapa detik pandangannya mengitari ruangan, setelah merasa tidak ada yang bertanya dosen itu mengakhiri khotbahnya, lalu berpamitan. Aku masih penasaran kepadanya, aku ingin tahu lebih banyak. Segera saja kukejar, aku tak ingin melewati rasa penasaranku.