Oleh Nana Sastrawan
Puisi, kerap dianggap sebagai ucapan bayangan batin penyair. Ketika ia terlibat secara emosional dalam sebuah peristiwa, boleh jadi jiwanya tak tenang. Ada gejolak yang bergerak begitu saja. Dalam bayangan batin itu tercermin gambaran yang jernih suara hatinya dalam memaknai hidup yang tak pernah sepi dari berbagai persoalan. Begitulah Subagio Sastrowardoyo berhujah. Bagi A. Teeuw, kekuatan puisi tidak hanya jatuh pada tema yang menunjukkan kekayaan dan keberanekaragaman pemaknaan persoalan hidup, melainkan juga bergantung pada bahasa dan cara mengungkapkan. Tentulah, ini dapat ditangkap penyair pada saat terjadi proses kreatif yang berkelindan dengan sentuh estetis.
Ya, proses kreatif dalam menulis puisi sejujurnya memang sangat memengaruhi kualitas puisi yang tercipta. Apalagi, jika kepekaan penyair secara terus menerus dilatih di berbagai peristiwa dan persoalan-persoalan kehidupan di sekitarnya. Semakin dalam ia merasakan, maka akan semakin hidup puisi-puisi yang tercipta untuk dimaknai. Dalam buku ini, saya banyak menemukan bayangan batin penyair pada larik-larik puisinya. Penyair sangat terlibat dalam persoalan-persoalan hidup; mengenang, menjalani dan memimpikan. Tema-tema itu muncul dengan gamblang diungkapkan sebagai gejolak yang tak pernah padam berada dalam hari-harinya kini.
Buku ini juga semacam curahan hati bagi para perempuan sekaligus juga ungkapan simpati atau empati bagi para lelaki. Sungguh, karya yang sangat menyentuh dan meninggalkan kesan yang dalam setelah membacanya.
Namun, dalam menulis puisi kiranya perlu juga memunculkan diksi-diksi yang padat, bagaimana pun juga, puisi yang memiliki diksi-diksi pada setiap lariknya akan membentuk gaya bahasa, dan pada akhirnya mempunyai multitafsir ketika dibaca. Seperti puisi ‘Perempuan Kayu’ di bawah ini.
aku sebatang kayu
terpatri di tubuh tanah
mencermati doa akar pada air
tiap malam purnama
menyaksikanmu
kelana dari hutan ke hutan
sebelum termangu
di hadapanku seorang
tubuhku terbakar sepi
sejak hujan pergi
ke angkasa lain
menjemput sisa kenangan
tahun kemarin
tak ada gerimis menjumpaiku
selain liar cahaya surya
meremas dedaunan
burung-burung pecundang
mengeker ranum buah
dari kejauhan
mencengkeram lengan
dengan kuku tajam
mematuk dengan paruh paling keras
seperti peluru menembusku
dengan pesan tersirat
kutemukan angin malam
meniupku penuh gairah
tiada kain mengulitiku
musim kemarau
buatku urian
jauh dari rupa hijau
seorang kau
mengancam dengan kapak
patahkan ranting-ranting
jadi kayu bakar,
jadi kehangatan,
jadi abu terlupakan
tubuhku terhampar liar
ke tawang
usik kunang-kunang
memangsa udara
yang menusuk tulang-belulang
tiada tersisa dariku
kecuali masa silam dan dendam
cuaca sebagai tulah
tangan yang pernah
merusak tubuhku.
Puisi karya I.R. Zamzami secara keseluruhan menggambarkan ‘jiwa’ perempuan pada sebatang pohon pada larik aku sebatang kayu, pohon-pohon yang hijau di rimba raya, yang kemudian harus terkapar di kapak-kapak para pembalak liar, lalu mengering. Bisa saja puisi ini kita maknai sebagai perempuan yang harus terkulai oleh para perusak dalam kehidupannya sehari-hari; cinta, hawa nafsu, dan usia.
Berbeda dengan puisi Ruhan Wahyudi yang memiliki narasi panjang, sebuah puisi yang memberikan ruang dialog pada pembaca tentang peristiwa-peristiwa yang diungkapkan olehnya. Puisi itu diberi judul ‘Tapak Tilas Sajadah’.
/i/
suara zikir di pundak waktu, melesitkan doa-
doa, pada semesta yang melahirkan surga
tangan dingin ibu melengkapkan doa-doa
di saat sujud tahajud dirajut, cahaya di jendela
menumpahkan seluruh teriknya, lalu kuamati
kedatangan peziarah mengukir nama dan semerbak
bunga padma berkelesik dicumbu bisik angin dari
celah timur pintu yang sedikit terbuka, dengarlah, Ibu
yang sering dilantunkan di saat anak dan cucunya
mengukir peta di tengah-tengah mimpinya
tapak tilas sajadah tak henti kuritualkan dan
suara lirih zikir menengadah memecah sunyi
di antara nasib dan takdir yang paling gelegak
tak ada yang lebih tabah dari ceruk mata ibu
yang menjelajahi ruang-ruang di sepertiga malam
mengenalkan angka-angka waktu hingga tuntas
namun, berkali-kali aku tak sepenuhnya mengerti
pelajaran yang ibu bisikkan, sebelum tidurku
melenyapkan masa kanak-kanakku.
/ii/
suara zikir di pundak waktu, melengkapkan harapan
dan kulucuti baju masa kanakku di kancing masa depan
demikian, kutempelkan kalender tua milik ibu dulu
mengunci cita-cita dan wasiat ibu yang tak pernah
tertinggal kubawa ke meja makan, ke tempat kuliah
hingga ke dalam mimpi, apakah semesta menandai
kita sebagai ahluzzikir, tak henti kuwiridkan doa-doa
dalam simpuh paling mahir di tangan Tuhan, yang
menuliskan cerita yang tak pernah hilang dalam sejarah
malam yang sunyi, lelampu di kejauhan tatap mata
diam-diam mencuri kemilau cahaya dari dua tangan
yang melarungkan doa dalam tubuh zikir atas
segala hakikat hidup di antara sujud syukur yang
tak kan pernah redup dan tersungkur.
/iii/
suara zikir di pundak waktu, mengajakku bersimpuh
di antara dua sujud yang menunjuk ke gambar wajah ibu
di dinding itu, gertak lantang suaramu seperti tabuh
beduk yang baru saja mengiringi subuh di kancing embun
namun, aku tak mampu mengucapkan satu kata pun
tatkala lidahku masih terlalu kencur, untuk meminta
mengajariku kembali huruf-huruf, angka-angka, pada
lembaran kosa kata di mana tetesan air mataku
mengalir dan membasuh rindu pada raut wajahmu
ketika kuingat, mendedah petuahmu, dan nasihat yang
sesekali menyelinap dalam tidurku, seperti malaikat
sedang merencanakan wasiat ibu yang tersembunyi
di kotak lemari, sobekan kertas kecil yang memang
dilipat-lipat rindu, harus kutuntaskan dengan doa-doa
di atas sajadah yang menjelma kawan karib, kapan
kuharus menyimak petuah atau bicara pada semesta
selain menyimak atau bicara pada semesta, barangkali
itulah rinduku, Ibu! Itulah doa-doaku padamu!.
Di dalam puisi ini, Ruhan Wahyudi sedang menggambarkan dirinya salat tahajud, berdoa dengan batin yang merintih penuh perasaan rindu, cinta, sedih, sepi, hampa dan perasaan lainnya. Puisi ini begitu terbuka untuk dimaknai, ia tidak ingin menyembunyikan makna dengan diksi-diksi yang padat pada setiap larik-lariknya, sosok ibu menjadi tokoh yang sangat kuat dalam diri si penyair dalam kehidupannya sehari-hari; demikian, kutempelkan kalender tua milik ibu dulu/mengunci cita-cita dan wasiat ibu yang tak pernah/tertinggal kubawa ke meja makan, ke tempat kuliah/hingga ke dalam mimpi.
Puisi ini pun seperti mewakili hampir setiap orang yan tengah berjauhan denga ‘ibu’, bisa jadi hidup di perantauan, atau memang dalam keadaan lainnya. Ruhan, secara bahasa ia telah memulai dengan cara yang baik pada sebuah puisi, hanya menunggu waktu dan mengasah kepekaan pada dirinya, ia akan dapat melahirkan puisi-puisi yang semakin matang.
Pada puisi ‘Perempuan yang Memeluk Lukanya Sendiri’ karya Gerimis Saba memberikan ilustrasi tentang seorang perempuan yang mencoba tetap tegar meskipun dalam kehidupannya diliputi dengan kepedihan. Hal-hal seperti ini kerap kali dijumpai pada diri masing-masing, sebab hidup memang memiliki perjalanan panjang dan akan selalu bertemu dengan situasi atau kenyataan yang tidak bisa dihindari, satu di antarnya adalah kepedihan.
Angka-angka kalender barjatuhan
ke dasar kolam
keruh
tak beriak
Ia menekuni ingatan-ingatan
tentang luka yang terbungkus rapi oleh tawa
Saat bulan separuh
hujan luruh
di luar jendela rapuh
Ia menghitung satu per satu
rintik yang jatuh di bantal
hingga seribu satu
Lalu ia menghitung seberapa banyak tawa
pernah terlukis di wajahnya yang lusuh
hingga seribu
Apakah tawa-tawa itu mengurangi jumlah luka?
Sejak malam itu
ia mengerti bahwa;
setelah luka akan ada tawa
pun sebaliknya;
setelah tawa akan ada luka
Ia mengemas lukanya lebih rapi
karena setiap sayatan memapah
pada tawa yang lebih nyaring
Ia terus memeluk lukanya
sampai purnama
ia berjanji
akan menikahi lukanya sendiri
Ketiga puisi itu memiliki titik fokus yang berbeda dengan cara mengungkapkan dalam tulisannya pun berbeda. Inilah uniknya puisi, meskipun menulis dengan tema yang sama, akan tetapi memiliki hasil yang berbeda.
Puisi akan hadir dan menjadi bayangan batin pada setiap penyairnya, dan dilepaskan pada kertas dengan bahasa yang metaforik. Para penyair tidak akan pernah berhenti terus mengolah kemampuan bahasanya, melatih menulis puisi setiap saat dan peka terhadap keadaan yang terjadi pada dirinya, atau lingkungannya. Selamat membaca.