Oleh Nana Sastrawan
Di tengah malam yang dingin, angin menyusupkan kenangan kepada kita yang saling memandang air mata di pipi, seperti sepi yang selalu sendiri dalam rindu. Di kota kita menjadi jalanan yang berisik, kotor oleh sampah dan gelandangan. Di desa kita menjadi umbi diparut kelapa, disandingkan dengan secangkir kopi dengan perasaan yang rawan. Di dalam gedung tinggi, kita menjadi korupsi.
Daun-daun terisik dan bayangan malam melangkah dari kegelapan. Kunang-kunang berterbangan hinggap pada kelam. Bulan bugil sendiri, kita pulang pada cahaya menghindar dari ancaman, meski kesadaran telah lama ditinggalkan. Kita adalah negeri yang bermimpi. Memiliki kegemaran purba, saling menyerang dan mengadu domba, senang berjudi dalam sembunyi seperti Sengkuni. Kita adalah negeri yang ditinggalkan oleh musim hujan.
Kebenaran terkucil seperti pulau-pulau terpencil, kesepian. Republik yang dibakar oleh janji politisi, Ilmu pengetahuan yang menghasilkan kemiskinan, perang antar saudara dan agama atas nama keberagaman, cinta diperkosa nafsu, semuanya tercatat dalam koran pagi, tersiar di televisi, seolah warna lokal kita adalah kerusuhan.
Di sana, sebentar lagi akan terjadi gempa susulan, lumpur-lumpur meluap, menjadi lautan hitam, seperti dosa-dosa para pembesar kita. Ah, republik!
2016
Puisi ini telah dimuat di buku kumpulan puisi Munsi yang diterbitkan oleh Badan Bahasa