Oleh Nana Sastrawan[1]
Puisi tidaklah sekadar menghiraukan pesan, isi, tema, tetapi dapat memberikan perhatian pada cara pengungkapan melalui bahasanya. Jika sekadar meniatkan puisi ‘hampa’, yang hanya memiliki ‘kekosongan’ dan hanya mengedepankan elaborasi ungkapan, kata-kata, bunyi-bunyi dari kata, tampilan, tentu saja pembaca akan ‘berdiskusi’ mencari makna dari puisi tersebut.
Sebaliknya, jika mengejar pesan atau makna pada puisi tanpa mengindahkan cara pengucapannya, ibarat sayur tanpa garam. Keduanya memiliki keterikatan yang kuat, penyair sudah seharusnya menyadari, memahami kedua hal tersebut sehingga ‘penyatuan’ itu akan terjadi, antara kegelisahan penyair dengan bahasa.
Membaca puisi-puisi dari hasil kelas menulis dengan tema ‘puisi dan film’ membuat saya semakin yakin bahwa ‘penyair tidak akan pernah mati di negeri ini’, mereka akan tumbuh lagi dan lagi. Meskipun rumor kekhawatiran penyair akan hilang atau tergantikan dengan kemampuan AI yang kini sudah berkembang pesat. Nyatanya menulis puisi dengan mengambil inspirasinya atau idenya dari film, menghasilkan puisi-puisi yang bagus. Akan tetapi, dari puisi-puisi yang bagus itu, suka tidak suka, saya pun harus mengambil tiga puisi yang harus diberikan reward oleh pihak penyelenggara.
Seperti yang saya ungkapkan di awal bahwa puisi tidak sekadar kata-kata, atau hanya memberikan ceramah untuk menasihati. Tetapi, menulis puisi akan sangat mendapatkan pengalaman, baik secara teks (bahasa), dan pesan yang terkandungnya (makna) kepada para pembaca. Begitulah hakikatnya karya sastra, oleh sebab itu kemampuan untuk menyatukan keduanya sudah seharusnya dimiliki oleh para penyair.
Teks puisi yang dihadirkan dari pengalaman menonton film, tidak hanya berupa menceritakan kembali film tersebut, melainkan teks tersebut adalah hasil dari memahami, mengamati, menganalisa dan lain sebagainya yang tentu saja teks puisi akan mengalami perubahan dari sekadar bercerita.
Ada beberapa hal yang saya perhatikan mengapa pada akhirnya saya memilih ketiga puisi di bawah ini sebagai puisi yang cukup menarik untuk diberikan reward. Pertama, gaya ungkap atau bertutur yang memang dimiliki kekhasannya oleh puisi. Gaya ungkap atau bertutur pada puisi akan sangat erat kaitannya dengan nalar si penulis puisi dan kemampuan berbahasanya. Sebab, peristiwa-peristiwa pada film atau adegan pada film memiliki ruang tersendiri untuk diungkapkan dalam teks puisi, sama halnya dengan mengamati peristiwa sekitar lalu ditangkap oleh nalar kemudian dituliskan dengan bahasa. Kedua, pemilihan kata. Puisi, biasanya selalu menyembunyikan makna dengan ‘simbol-simbol bahasa’. Yang sering banyak dikatakan bahwa puisi memiliki gaya bahasa. Nah, bagaimana itu tercipta, tentu dimulai dengan pemilihan kata yang tersusun secara acak maupun sistematis akan dapat membantu menghasilkan gaya bahasa.
Ketiga, imajinatif. Perlu disadari, puisi pada akhirnya akan berbeda dengan film yang ditonton. Sebab, film yang ditonton hanya alat atau jalan untuk memantik pikiran menulis puisi. Tentu saja, sering ditemukan ruang-ruang imajinatif pada puisi yang terlahir dari simbol-simbol bahasa yang diciptakan oleh penulisnya.
Ketiga hal ini, bagi saya adalah hal yang besar yang dapat menjadikan puisi ‘berhasil’ menyatukan kegelisahan penyair dan bahasa, apapun temanya yang nanti akan ditulis. Mari kita simak ketiga puisinya di bawah ini:
Mukhlis Imam Bashori
PEREMPUAN YANG TABAH MENIKAM LUKA
: Miracle in Cell No. 7
Perempuan itu telah lama
mengurung deras mata air
jauh di dasar palung matanya
Ia benamkan nyeri yang tumbuh
setiap kali ia mencoba
menyelamatkan nama lelaki itu
dari ruang yang penuh
dengan cuaca duri.
Ia harus memanggul bara api
sembari menyanyikan irama balada
dalam paranada minor
di antara nada-nada janggal
yang menghujani.
Perempuan itu
telah menyusur-mengarungi
sungai duka
dalam alir darahnya
ketika gemuruh pledoi
tentang lelaki itu
menciptakan nada-nada sumbang
yang meluapkan alunan badai:
seperti amukan ombak ganas
yang berulang kali
dibenturkan
di ulu dadanya.
Perempuan itu, ia mencoba dengan tabah
menikam luka
yang dilembingkan oleh langit
pada wajahnya
dan barangkali ia tak akan lagi terisak
untuk lelaki
yang selalu menanam denyut purnama
di hatinya
—bukan karena abai—
sebab ia tak ingin
menyaksikan
sekian warna duka
di mata lelaki itu.
Dan laki-laki itu, ia hanya ingin
perempuan yang begitu ia cintai itu
mencium wangi pelangi,
menangkap merdu tempias hujan
dan kembang api yang hangat
di antara deretan kata muram
yang akan memeluki
tingkap harinya.
Ia ingin menyulam
seratus sayap cinta milik Rumi
agar kelak perempuan itu
berdansa dan mengecup
rona purnama yang arumi.
Laki-laki itu,
ia tak pernah tahu
peta nasib
akan membawanya
pada darah, tangis,
dan lalu-lalang air mata:
pada kematian
yang menyala.
Tapi, dalam raut yang sunyi
ia seperti tak pernah menolak
sekian orkestrasi
yang telah digariskan langit
pada tangannya.
“Aku yang akan pergi dulu
menyapa malaikat itu.
Kau mesti meracik kama
dan merayakan bunga-
bunga.”
Malam pun mengabut
di persimpangan.
Langit jadi kusut. Kecut menyusup
di jendela cakap.
Di ujung rubayat,
gerimis di pipi
bagai genang air
yang lekat.
Siapa yang telah
menggali-gali nestapa
dan menghabisi rindu
menjadikannya sedu?
Perempuan itu,
ia akan terus—dengan tabah—
menikam desis tangis
di atas sembilu yang terus mengiris
sebab kabar terakhir
hanya obituari dan sederet bunga lili
yang membeku
pada sebuah bunyi palu
di antara liang-liang luka
yang tak akan pernah
terkelupas itu.
Malang, Juni-Juli 2024
Dimarifa Dy
INGATAN-INGATAN LAMA
: Memoirs 0f a Gheisa
1
setiap hal yang aku lihat, daun yang jatuh, suara angin
bahkan burung gereja yang memenuhi kabel-kabel listrik Gion
aku memikirkanmu
apa mereka bisa terbang sejauh itu dan menjumpaimu
kemudian memberitahu, aku merindumu
rasanya menyedihkan, memeriksa surat kabar
bahkan jika kau adalah hal yang terakhir harus kupikirkan
aku tidak tahu, apa yang bisa aku lakukan
bagaimana aku bisa menjelaskan apa yang aku lihat dalam
waktu sebentar itu. Seperti mendengar musik
yang dikembangkan oleh angin pada mataku
saling bertaut dan tak lepas
ia tinggal dalam ingatan yang lama, terus menerus
sama banyak dengan hitungan kaki berlari
pada lorong-lorong kuil. Menjadi kipas, pemerah bibir
dan kimono sewarna musim gugur
berjalan itu hanya butuh terminal akhir
lamat-lamat. Ingatan itu lama sekali, Ketua
bahkan badai musim dingin tak bisa melenyapkanmu
jadi biarkan aku terus berjalan. Lamat-lamat
ah bagaimana ini. Aku menyimpan banyak rasa cemburu
kepada orang-orang yang beruntung
kepada seluruh usia yang dihabiskan untuk mencintai
sama seperti mencintaimu tanpa mengetahui
kau masih ada atau tidak di dunia ini
pergi ke jembatan, mengamati matahari tenggelam
bertanya-tanya, apa kau melihat matahari yang sama
dan memikirkan aku
atau dari semua pemikiranmu
aku tidak pernah menjadi salah satunya
kau benar. Pemujaan irrasional ini
lagi-lagi menjadi bumerang
kemudian menjadi tidak bahagia
seperti pada mimpi yang tak mungkin
lalu aku harus bangun pada suatu pagi
tanpa menemukanmu
itu sedikit tak adil, tapi apa yang bisa kulakukan
aku mungkin juga tak begitu punya banyak alasan
untuk berhenti
bahkan jika tubuhku juga mulai mencair
seperti menukar seluruh keberuntunganku
atau menebus dosa yang tak selesai
aku akan terus mengatakan, aku menunggumu.
2
rumor tentang kota yang telah jadi gumpalan asap
menjadi tahun-tahun panjang
seperti tak pernah ada akhirnya
sampai kehidupan lama terasa seperti mimpi
apa aku pernah menari sambil memegang kipas
dan memerahkan bibir
kini siapa yang memegang kipas
kau yang tersenyum padaku dengan sorot mata
bertanya: plum atau cherry
apa aku pernah bertemu denganmu
aku bahkan lupa pernah hidup pada masa itu
berita-berita terus datang dengan tidak relevan
aku terus menghitung waktu dengan teliti
menambah penanda pada sejumlah jendela
mungkin pula berharap dari sinar matahari
kau akan terus muncul, berlari dan memelukku
aku tertawa
seorang gheisa tak bisa menginginkan
tak boleh merasakan
alat musik dalam dunia yang mengambang
terus menari dan memetik senar
apapun yang kau inginkan
selebihnya hanyalah bayangan
selebihnya adalah rahasia
setiap langkah yang kuambil
sejak mejadi anak di jembatan itu
seorang gadis kecil yang lebih berani dari yang dia kira
memilah ini hidup, ini tidak. Harus berlari atau berhenti
dalam hidup yang panjang. Impian yang lama
kita tak bisa bilang pada musim semi
untuk menambah musimnya
hati menjadi gugur perlahan
sampai suatu hari tak ada lagi harapan
tak ada yang tersisa
wajah yang dirias agar tersembunyi
mata dicelak menjadi air yang dalam
cukup untuk menenggelamkanmu dalam anggur-anggur
tanpa manisan
entah kapan, kita juga mempunyai akhir yang indah
meskipun rasanya, ini sangat menyedihkan.
Faidi Rizal Alief
AKU LUKA DAN KAU KAPAL YANG TENGGELAM
:Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Hayati, akhirnya kau aku kembali ke tanah wangi masa lalu ini. Sialnya saat kita sudah bernama jarak yang dipisah sungai panjang air mata. Mataku bertemu dengan matamu yang sudah dirampas kesedihan. Ah, engkau yang tengelam, tetapi justru aku yang pengap, sesak, dan sulit bernapas dalam kesendirian. Duh, Hayati andai kau aku tak dikhianati oleh adat dan martabat, mungkin hari ini matahari bisa terbit dari kelopak bunga dan nanti malam, bulan akan menyala dari mimpi kita.
O. Biar, biarlah yang menetes dari mataku ini mengental lagi dalam kehampaan, jadi masa lalu yang akhirnya jauh lebih keras dari keris, jadi harapan yang siap terluka kembali sepanjang usia di hadapan rasa pahit akibat terlalu lama hidup menanggung beban, cacian, dan saling menyalahkan. Pagi adalah siul burung yang dipatahkan kematian dadakan juga sungai kecil sebelah bukit dan padang rumput yang dibakar kemarau. Kaulepaskan hidupmu, Hayati yang ternyata seluruhnya adalah cinta dan aku menerima kemungkinan yang bagian-bagiannya adalah kesengsaraan. Sejenak, biar kata dan sesak suara terakhirmu ini menghukumku sebagai lambaian tangan dari seberang jalan untuk kekasihnya yang pergi ke sebuah entah.
Kenangan selamanya hanya bernama laut lepas, Hayati dan hari kemudian adalah kapal yang bocor. Semakin hari, semakin dilupakan pelukan dan rencana-rencana pertemuan. Perpisahan, kelak bisa jadi bukan lagi perkara berat. Ia tak ubahnya sebuah kebiasaan baru yang mudah yang ringan yang tak masalah dibiarkan begitu saja, meski perlahan pula seperti tangan malaikat maut yang menarik-narik hidup dengan kejam.
Dan pagi ini, Hayati, pagi ini seperti juga pagi-pagi beberapa hari terakhir, daun-daun gugur. Ranting-ranting patah. Burung-burung meninggalkan sarang. Tak ada yang bisa aku rebut kembali di sini, kecuali tangan yang benar-benar lelah, benar-benar lembab oleh deras air mata yang curah dari seluruh penyesalan.
Sungguh! Pada akhirnya, aku tetaplah luka yang bahkan hari ini, Hayati sangat gemetar mengucapkan kalimat syahadat di telingamu, sebab setelahnya, matamu tertutup dan seluruh diriku menjadi gelap. Setelah ini, aku memang akan bisa pulang, tetapi yang aku bawa pastilah bayangan kapal terus tenggelam ke dasar ketiadaan.
Bandungan, 2024
Membaca puisi di atas, tentu saja tidak sedang menonton film, tapi kita sedang menikmati karya sastra. Meskipun pikiran atau imajinasi kita dibawa ke adegan-adegan film yang memang sudah menonton dengan bantuan penempatan judul film di bawah judul puisinya. Bisa jadi juga bagi yang belum menonton memiliki ruang imaji dan pemahaman tersendiri pada puisi-puisi tersebut. Ya, pada akhirnya karya puisi tetaplah karya puisi, berbeda dengan film. Dari kelas ini, kita telah belajar puisi yang lebih luas lagi. Selamat membaca dan menjelajahi film-film dari puisi-puisi di dalam buku ini.
Juli 2024
[1] Peraih Penghargaan Acarya Sastra IV Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2015