Nana Sastrawan[1]
Dalam karya sastra, sampai saat ini belum ada definisi yang tepat tentang religiusitas, baik prosa maupun puisi. Tetapi, jika membaca karya sastra religius khususnya puisi, memiliki pancaran yang menggambarkan pemahaman semangat untuk setia pada hati nurani, serta sifat-sifat dan kehendak Tuhan. Tentu karya-karya puisi tersebut dapat ditemukan pada sastrawan Muslim maupun non-Muslim. Di Indonesia, bisa dibaca pada karya-karya Raja Ali Haji atau Hamzah Fansuri, bisa juga ditemukan di puisi-puisinya Amir Hamzah.
Secara filosofi (jika mengacu pada hati nurani) karya sastra pada awalnya adalah religius. Sebab itu, religiusitas bisa saja dimaknai sebagai yang paling hakiki. Ini bisa dibaca dalam buku Sastra dan Religiusitas (1981) oleh Mangunwidjaja.
Lalu, apa hubungannya religiusitas dengan kelas puisi angkatan 25 yang diadakan SIP Publishing dengan tema ‘Ramadan’?
Jika membaca tema tersebut, tentu saja pemahaman religiusitas ini pasti ada hubungannya dengan karya-karya puisi yang akan dihasilkan oleh para peserta yang menulis puisi dengan tema ‘Ramadan’.
Pertanyaannya adalah, apakah karya-karya puisi dari para peserta itu masuk dalam kategori pemahaman religiusitas seperti yang dimaksud di atas, atau hanya ‘templete’ dari aktivitas-aktivitas religi di bulan Ramadan?
Ada beberapa puisi dari sekitar ratusan puisi yang menarik di antara puisi-puisi lainnya. Menarik di sini dibaca dari sisi cara pengungkapan bahasanya, elaborasi tema dan pemilihan kata.
Pertama, puisi karya Wahyu Tanoto berjudul Mukena Tua.
tiap kali pulang kampung memasuki pintu rumah cahaya
mataku tertumbuk pada mukena tua itu
tergantung rapi dibalut warna yang mulai memudar
tak lagi dipakai pemiliknya
hanya diam, menunggu disapa seperti dahulu
dengan napas tertahan kubayangkan dirinya
suatu hari, ia duduk bersimpuh di rumah cahaya
menekan lapar dan dahaga
sementara ramadan telah mengajaknya pulang
lebih awal dari yang lain
ah, sudah berapa ramadan berlalu tanpanya
apakah doaku sampai menyejukkan pusara?
bisikan magis mukena tua itu terngiang di kepala
“kemarilah, kenanglah sujud dan rukunya
bayangkan bagaimana jika ini ramadan terakhirmu
bukankah malam-malamnya penuh cahaya
ingatkah lailatul qadar menanti di keheningan?”
tiap kali memasuki pintu rumah cahaya itu
selalu kudengar suara kalam ramadan bersahutan
laksana bayangamu, tak pernah benar-benar pergi
seperti tasbihnya yang masih bergetar dalam ingatan
“sabarlah,” kataku pada rindu
ini bulan suci, bukan untuk air mata
saatnya memanjatkan puja puji
bukan meratapi kepergian
mukena tua itu hanya tersenyum dalam sajak
seakan mengerti, ramadan masih menanti
Puisi ini dapat dengan jelas memiliki makna besar tentang kerinduan anak terhadap ibunya di bulan Ramadan. Mukena Tua menjadi simbol sebagai sosok seorang ibu yang selalu memakai mukena itu dalam aktivitas ibadahnya di bulan Ramadan. Dan ketika ia pulang setelah pergi dengan waktu yang lama, ia melihat kembali Mukena itu, lalu bayangan-bayangan ibunya muncul. Begitulah kira-kira awal ide puisi itu dibentuk hingga pada bait terakhir puisinya, diketahui bahwa ibunya telah lama meninggal.
Kedua, puisi karya Karist Dwi Wibowo berjudul Ramadan di Gubug Sastra Wit Pring: Selembar Hikmah Dalam Sunyi.
Di gubug kecil, di bawah rindangnya wit pring,
Ramadan datang membawa angin sejuk,
Menuntun jiwa dalam keheningan yang dalam,
Mengajarkan sabar, mengukir hikmah dalam sunyi.
Lampu temaram menyinari lembaran kitab,
Bacaan suci memeluk malam yang tenang,
Tiada hiruk-pikuk, hanya lantunan doa,
Mengalir dalam bait yang penuh makna.
Wit pring yang berbisik di tengah angin malam,
Menjadi saksi bisu perjalanan hati,
Mencari makna dalam setiap langkah,
Menyelami kedalaman jiwa yang terjaga.
Sunyi bukan kesendirian, tapi pertemuan,
Dengan diri yang lebih dalam, dengan Tuhan yang dekat,
Selembar hikmah terurai dalam setiap zikir,
Mengalir dalam hati, menyejukkan jiwa yang lapar.
Ramadan ini, di gubug yang penuh ketenangan,
Aku belajar untuk lebih dekat, lebih peka,
Dengan setiap hembusan napas,
Dan dengan setiap detik yang berlalu,
Menemukan kedamaian dalam sunyi yang abadi.
Puisi ini telah menunjukan inspirasi penciptaannya dengan judul Ramadan di Gubug Sastra Wit Pring. Tetapi, bagian ini yang bisa menjadi bagian yang menarik, bagaimana si penulis puisi menangkap suasana lingkungan sekitar dipadukan dengan suasana hatinya sekaligus waktu yang bersamaan, yaitu waktu Ramadan. Dari perpaduan itu, menunjukan bahwa kepekaan penulis menjadi pondasi hasil karya puisi yang tidak akan usang meskipun temanya serupa ditulis oleh banyak orang.
Ketiga, puisi karya Robi Hidayat berjudul Ziarah Hati di Musim Maghfirah.
di wajah sajadah waktu menawan tubuhku
kau adalah damba yang terserak dalam tasbih
merajut rindu yang terpatri
mengiris sembilu di kerongkong fajar
kau sebut tubuhmu tirakat panjang
angin mengusap zikir dari ujung sahur
merangkul lara di sela jemari yang khusyuk
tahajudku bersua di langit ketiga
merangkai doa yang tak sempat terucap
cinta menjelma kitab tak beraksara
ia tertulis dalam hujan malam lailatul qadar
tersenyum dalam suara anak yatim
berkisah gemerlap lampu toko yang berjaga
untuk sepotong roti dan secangkir teh manis
kau pelabuhan yang tak bertepi
berlabuh dengan duka yang sama
aku merindukan maghfirah yang mengalir deras
seperti sungai di bawah jembatan mimpimu
di sini duri pun bersemi mawar
saat kulantunkan ayat tentang surga
harap ini tak lekang meski purnama pergi
kita akan menabur salam di jalan sempit
menjadi pelita bagi langkah yang tersesat
menyimpan lara dalam kantong iftar
merajut kota yang sama dalam doa
sampai nanti di ujung syawal
kita akan bertemu sebagai air yang jernih
mengalir dari sumber yang tak kau sangka
menaburkan cinta
dengan sunyi yang bergema
Puisi ini lebih fokus pada makna bulan Ramadan yang hadir pada seseorang. Makna itulah melahirkan rahmat; membawa penyadaran seseorang bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk ‘bersimpuh’ di atas sajadah. Dalam puisi ini pun, secara tersirat memberikan penggambaran tentang keutamaan-keutamaan Ramadan, seperti beribadah tahajud, malam seribu bulan, zakat dan menyantuni anak yatim, membaca kitab suci hingga pada bait puisi terakhir sampai pada waktu ‘syawal’ sebagai air yang jernih, menyucikan tubuh. Begitulah gambaran besar ide dari puisi ini yang menghadirkan ‘aku’ dan ‘kau’. Dimana aku sebagai manusia atau seseorang, dan kau sebagai Ramadan.
Dari ketiga puisi yang terpilih di atas, apakah puisi-puisi itu masuk dalam kategori pemahaman religiusitas; memiliki pancaran yang menggambarkan pemahaman semangat untuk setia pada hati nurani, serta sifat-sifat dan kehendak Tuhan.
Tentu saja, bukan hal yang mudah untuk menjawabnya, dan bukan pula ketiga puisi itu bisa dijadikan contoh yang akurat untuk masuk dalam pemahaman religiusitas dalam puisi atau karya sastra. Akan tetapi, ada beberapa catatan yang bisa memberikan tali ikatan pada pemaknaan itu dari ketiga puisinya.
Catatan dalam puisi pertama, di bait: ah, sudah berapa ramadan berlalu tanpanya/ apakah doaku sampai menyejukkan pusara?/ bisikan magis mukena tua itu terngiang di kepala/ “kemarilah, kenanglah sujud dan rukunya/ bayangkan bagaimana jika ini ramadan terakhirmu/ bukankah malam-malamnya penuh cahaya/ ingatkah lailatul qadar menanti di keheningan?”.
Catatan dalam puisi kedua, di bait: Sunyi bukan kesendirian, tapi pertemuan,/ Dengan diri yang lebih dalam, dengan Tuhan yang dekat,/ Selembar hikmah terurai dalam setiap zikir,/ Mengalir dalam hati, menyejukkan jiwa yang lapar.
Catatan dalam puisi ketiga, di bait : sampai nanti di ujung syawal/ kita akan bertemu sebagai air yang jernih/ mengalir dari sumber yang tak kau sangka/ menaburkan cinta/ dengan sunyi yang bergema.
Begitulah, meskipun puisi-puisi itu belum sampai titik sempurna pada makna religiusitas yang paling hakiki, akan tetapi puisi-puisi ini telah menyentuh kebutuhan manusia tentang religiusitas itu sendiri, yaitu sebuah penyadaran diri.
Maret 2025
[1] Peraih Acarya Sastra IV Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2015