Dalam dasawarsa ini, kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan sastra Indonesia dirasakan mulai memudar. Hal ini terjadi karena pengaruh globalisasi dan kurangnya aktivitas pendukung dalam mengembangkan kreativitas berbahasa dan bersastra. Berbagai penelitian atau kajian tentang pembelajaran sastra di sekolah memang tidak menggembirakan. Ada tiga yang menjadi penyebab, yaitu (1) Hubungan teori dengan kemampuan apresiasi siswa tidak ada; (2) Minimnya waktu guru untuk mengikuti perkembangan sastra; dan (3) Kurangnya kemampuan siswa untuk mengaitkan nilai sastra dengan nilai etika, moral dan budaya dalam kehidupan.
Berdasarkan fakta tersebut, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia merasa terpanggil untuk menyelenggarkan aktivitas yang dapat meninggakatkan rasa cinta terhadap bahasa dan sastra serta untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam bahasa dan sastra Indonesia. Oleh karena itu, mereka mengadakan Lomba Kreasi Bahasa dan Sastra Indonesia tingkat SMA/SMK/MA sederajat se-Jabodetabek Sukabumi dan Cianjur. Kali ini, Nana Sastrawan di gandeng sebagai juri dalam lomba seni membaca puisi pada 28 September 2018.
Seni membaca puisi memang masih tergolong belum populer di masyarakat luas, meskipun sudah bermunculan komunitas-komunitas sastra dan penyair di berbagai daerah, dan pemerintah juga telah sering mengadakan lomba yang serupa. Penyebabnya bisa saja dari ketidak mengertian tentang puisi itu sendiri di masyarakat. Nana Sastrawan menyampaikan tiga hal dalam ajang lomba seni membaca puisi tersebut kepada peserta dan guru-guru pendamping. Yaitu, seni membaca puisi dapat mengembangkan kecerdasan kognitif (Berpikir), Afektif (Rasa), Psikomotorik (Gerak) dimana seseorang yang memahami puisi dan membacakannya dalam ajang apresiasi karya sastra, dia akan menjadi pribadi yang segera matang dan dewasa secara berpikir, prilaku dan pertumbuhan jasmani. Di dalam puisi ada ilmu-ilmu bahasa, nilai sikap, moral dan hukum serta dalam membacanya seorang penyair juga dituntut untuk menggerakan badan, menyadari luasnya panggung dan memunculkan ekspresi wajah. Nah, itulah puisi.
Kegiatan tersebut juga sekaligus menjawab sindiran tentang sastra, bahwa sastra adalah sesuatu yang purba, aneh, gila dan omongan miring lainnya. Mari, kita semua bergerak dalam kegiatan positif dalam sastra, sebab sastra adalah milik kita semua, bukan hanya milik penyair, sastrawan atau para ahli bahasa. Sastra lahir dari masyarakat, maka kembalikan kepada masyarakat. Salam puisi bertubi-tubi.